Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan

Ludfi presented Oh Sehun, Kim Jongin Teenager, Bit romance PG-15 Happy Reading . . . Semilir angin ...


Ludfi presented


Oh Sehun, Kim Jongin


Teenager, Bit romance

PG-15


Happy Reading
.
.
.


Semilir angin menggoyangkan anak rambut seorang pria yang sedang duduk di sebuah bangku, di depan café. Menikmati anak-anak angin yang bermain di sekitar wajahnya. Menggelitik beberapa bagian di hidung. Seolah mengajaknya untuk ikut bergabung bersama. Bermain meliuk-liukkan badan dengan bebas, mengoloknya. Sepasang iris itu menatap jalanan yang lenggang di depan mata. Menghirau barang sejenak secangkir espresso di atas meja. Bebauannya bahkan sempat mengudara, terhirup tanpa sengaja oleh pejalan kaki yang tak sengaja berlalu di depan café tersebut.

Pria itu sudah bertandang disana sejak tiga puluh menit yang lalu. Dan cangkir espresso itu bahkan belum disentuhnya sejak dihantarkan seorang waiters berkulit sedikit gelap. Ia mengenal waiters tersebut. Setidaknya mereka saling bertukar sapa ketika bertemu –meski hanya sekedar formalitas belaka. Ia langganan café ini, jika kau ingin tahu.

Tidak banyak yang pria itu lakukan disana. Ia hanya datang dan memesan segelas espresso kemudian akan duduk sembari mengamati jalanan. Selalu seperti itu. Di bangku yang sama, serta di waktu yang sama pula. Mengamati jalanan selama tidak lebih dari dua jam seorang diri, kemudian beranjak pergi. Tidak banyak yang mengenalnya, kurasa –karena ia selalu datang seorang diri.

“Hai, lagi–lagi kau disini.” Sapa seorang waiters berkulit gelap dari pada lawan bicaranya. Bahkan bisa dikatakan jauh berbeda. Pria itu bahkan kurasa memiliki kulit seputih porselen. Seperti wanita. Dengan tubuh yang sangat tinggi dan tidak terlalu kurus membuatnya tampak seperti seorang cover boy. Tidak. Ia tidak benar-benar cover boy. Sehun –nama pria itu– hanyalah seorang siswa biasa. Terlihat dari seragam sekolah yang selalu ia kenakan saat mengunjungi café. Sehun selalu mengunjungi café saat pulang sekolah.

Seperti biasa, bocah itu hanya tersenyum saat waiters itu menyapanya. Sehun bukan tipikal anak yang banyak omong, ia cenderung pendiam dan tertutup. Dengan ekspresi datar yang misterius.

“Espresso mu belum kau minum tuh,” Pria yang lebih gelap memilih untuk duduk di kursi kosong di hadapan bocah dengan name tag Oh Sehun tersebut,

“Sepertinya sudah dingin, apa perlu kubuatkan lagi?”

“Tidak, Jongin Hyung. Lanjutkan saja pekerjaanmu.” Sehun tersenyum penuh. Ia buru-buru menyeruput espresso miliknya. Ah. Memang sudah dingin, pikirnya. Tapi tak apa, espresso yang telah dingin tidaklah penting, bisa melihat pria berkulit gelap itu saja Sehun sudah sumringah.

Jongin. Kim Jongin namanya. Merupakan mahasiswa jurusan Art and Dance di sebuah universitas nomer satu se-Korea Selatan. Seoul University. Jongin mendapat beasiswa karena kepiawainnya dalam menari dan bakat luar biasa di bidang seni. Jongin menghidupi kebutuhannya sendiri dengan bekerja paruh waktu di sebuah café di daerah Gangnam. Jongin tidak punya orang tua. Ia hanya hidup dengan paman dan bibinya yang telah merawatnya sejak kedua orang tua Jongin meninggal dunia, karena sebuah kecelakaan.

Jongin, pria berkulit gelap dengan senyuman menawan itu telah menyihir Sehun di awal pertemuan mereka. Sehun melihatnya saat festival kesenian lima bulan yang lalu. Jongin meliuk-liukkan tubuhnya dengan lincah di depan stand miliknya untuk menarik minat pengunjung. Dengan alunan instrument lembut yang mendayu, Jongin menggerakkan tubuhnya dengan gemulai. Jongin melakukan ballet, tubuhnya bergerak seiring dengan melodi. Bergerak kesana kemari. Memperlihatkan manuver-manuver tegas namun tetap gemulai. Dan saat itu Jongin berhasil menyihir perhatian begitu banyak pengunjung. Sehun merupakan sebagian kecil dari mereka. Terpesona dengan gerakan gemulai penuh emosi. Tarian khas Jongin.

Sejak itulah Sehun menguntit Jongin diam-diam. Bocah itu bahkan meretas data pribadi Jongin, mengandalkan kepandaiannya dalam bidang IT. Dan hasilnya, seminggu sejak festival tersebut Sehun berhasil menemukan tempat kerja Jongin. Ia selalu menemui Jongin secara tidak langsung. Berdiam diri disana hanya untuk memandang pria berkulit gelap tersebut. Dan berpura-pura melihat jalanan saat Jongin berada di dekatnya.

“Aku sudah selesai, Hun.”

Sehun mendelik, ia melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ah benar. Sudah lewat jam 8 malam.

“Kau lapar, Hun? Mau ku traktir?”

“Eh–Sepertinya aku kelaparan.”

“Haha… tentu saja, kau berada disini sejak 2 jam yang lalu.”

Sehun sedikit memerah. Jongin tertawa, dan begitu dekat dengannya.


Terkadang rasa suka itu bisa terasa begitu manis. Sesimpel apapun itu akan menjadi menyenangkan. Sehun memang tidak berpengalaman terhadap cinta. Ia bahkan tidak pernah menjalin hubungan. Ia hanya berani menyukai, namun terlalu takut untuk mengatakan. Sehun merasa jika ia menyedihkan dan seperti pecundang. Namun Sehun tetaplah Sehun. Mungkin Sehun butuh bantuan untuk mengatakannya. Apa kalian bersedia membantunya?



A/N:

Holaaaaaa.... aduh maaf sekali blog sedikit terbengkelai. Kemarin juga sempet amburadul. Sekarang saya sudah berusaha untuk merapikannya lagi hehe...

Ohhh saya datang bawa epep SeKai. Saya tahu kalau epep nista mereka udah mengudara dimana-mana. Ini hanya sekelumit epep amatir yang saya tulis karena rasa cinta saya terhadap Kai (apadah busettt).

Saya sedang berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dalam hal menulis juga buat cover. Ah, saya buruk memang kalau menyangkut cover. Tapi saya akan berusaha keras untuk menjadi mahir lagi dan lagi.

Btw, terimakasih untuk pembaca yang menyempatkan mampir ke blog saya.

Do not copas, w/o credit, please...
Menjiplak adalah kejahatan ^^

Ludfi presented Jung Chanwoo,  Kim Hanbin,  Kim Jiwon,  Kim Jinhwan,  Son YunHyeong,  Kim Donghyuk,  Koo Junhoe Psycho...



Ludfi presented


Jung Chanwoo, Kim Hanbin, Kim Jiwon, 
Kim Jinhwan, Son YunHyeong, Kim Donghyuk, Koo Junhoe


Psychology, Mystery

PG-18



Happy Reading ^^





Ketika gejolak amarah sudah tak terbendung lagi. Ketika martil telah melukai seseorang. Ketika titik-titik api telah berubah menjadi kobaran. Dan ketika kata’maaf’ tak lagi memiliki arti.






Furnitur-furnitur itu bergeming. Bungkam. Entah karena tak memiliki nyali, atau memang hanya tak ingin berkomentar. Bodohnya, mereka hanya diam saja. Rela menjadi saksi bisu tentang apa yang terjadi di depan mata.

Sebuah lengan putih pucat bergerak diantara yang lain. Mencoba untuk menggapai sesuatu, yang didapati hanya udara kosong. Hampa. Lengan itu kini kembali merapat pada sang empunya. Pria berkulit pucat dengan bekas luka sayatan di dahi kiri. Iris kelam menyapu seluruh penjuru ruangan. Kacau. Apakah ini akibat ulahnya? Pria itu bahkan tidak yakin dengan apa yang baru saja terjadi. Hanya warna merah yang di pantulkan oleh retina.

Kembali irisnya menyapu seluruh ruangan. Bagian dari otaknya memproses, meski lambat namun ia kini mulai mengerti. Mulai menyadari apa yang terjadi. Tubuhnya bergetar. Makin meringkuklah tubuh kurus tersebut. Merapat pada dinding yang dinginnya menusuk hingga tulang. Seolah mengolok ketidak-berdayaannya. Pria itu terisak. Wajahnya begitu pias, menunjukkan keputus asaan yang amat sangat.

Ia tidak sendirian disana. Ia bersama teman-temannya. Teman yang amat ia sayangi. Iris kelam itu kembali menyapu ruangan. Sekali lagi, kacau. Ia ingat itu akibat ulahnya dan teman-temannya. Pria itu menyunggingkan senyum. Ia salah mengira, jika ia telah melakukan hal buruk pada kamarnya. Wanita tua cerewet yang dipanggilnya ibu itu pasti akan memarahinya lagi. Kemudian tubuhnya akan membiru. Setidaknya jika bersama teman-temannya wanita itu tak akan bisa memarahinya.

Benar, ia bersama teman-temannya. Ia tak perlu kawatir sekarang. Ia akan aman.

Mereka sedang tidur sekarang. Nyenyak sekali hingga pria itu tak kuasa untuk membangunkan. Pria itu menyunggingkan senyum terbaiknya. Teman-temannya pasti sangat lelah. Mereka sibuk bermain seharian ini.

Lekas pria itu bangkit, beranjak menuju lemari. Mencari selimut untuk mereka. Udara sedang dingin, tentu ia tak ingin jika teman-temannya sampai jatuh sakit. Ia akan merasa amat bersalah.

“Hyung, ini, kau akan hangat dengan ini.” Sebuah selimut  tebal menutupi tubuh pria lain yang lebih tinggi dari yang lain. Pria itu tidak bergeming.

“Kalian adalah temanku, para hyungku. Kalian sangat baik. Amat baik padaku.” Wajah pria yang satu-satunya masih terjaga kembali pias. Irisnya sedikit buram. Dan sesuatu mencoba untuk keluar dengan paksa dari pelupuk matanya, sesuatu yang tak asing baginya. Ia mengusap dahi temannya –yang paling dekat dengannya–  yang sedikit basah.

“Junhoe hyung,” Punggung tangannya yang basah ia tarik mendakati wajahnya. Dengan perlahan organ tak bertulang miliknya menyapu punggung tangannya yang menjadi basah karena sentuhan. Pria itu menatap dirinya sendiri. Tersenyum.

“Sepertinya aku harus mandi dulu, sebentar lagi akan ada tamu. Ah –aku lengket sekali”

_._

Gerombolan pelajar membentuk kumpulan kecil, bak semut telah mendapat bebijian. Mereka berbisik, berdecak dan sederet aktifitas lainnya yang masih berhubungan erat dengan kegiatan menggunjing.

“Ini benar-benar diluar dugaan, dia bahkan masih seumuran denganku.”

“Mungkin dia punya alasan–“

“Satu-satunya alasan adalah karena dia psikopat.”

_._







January, 1 2016
Ditemukan tujuh orang pria di dalam salah satu kamar gedung apartemen. Enam orang diantaranya dalam keadaan tewas dengan kondisi mengenaskan. Satu orang lainnya sedang duduk di sebuah sofa dengan senyuman mengerikan. Diketahui mereka semua adalah anggota boy group terkenal, dibawah naungan management besar.
Korban berinisial HB, JIH, JW, JH, YN, dan DH.
Sementara ini CW diduga menjadi pelaku.

Polisi akan memberikan keterangan lebih lanjut saat keluarga korban mengijinkannya.



A/N:

Annyeong ^^
Saya sedikit simpati sama part Chanwoo di lagu-lagu iKON, sedikit sekali. Yah memang bagaimana lagi. Diantara semua member, hanya dia yang kemampuan bernyanyinya masih kurang. Tapi saya yakin Chanwoo bisa grow up kedepannya.

Kalian pasti sudah tahu kabar miring yang menyatakan kalau Chanwoo dibully kan? Saya antara percaya ngga percaya sih. Tapi ngeliat perlakuan member terhadap bocah itu saya jadi prihatin. Saya ngga asal jugde aja. Saya pilah apa itu memang benar, dan jika itu memang benar saya hanya akan mengatakan jika mereka melakukan hal itu ada alasannya. Logikanya, Chanwoo datang setelah WIN. Kita tahu perjuangan B.I cs saat WIN, mereka berjuang banget. Mati-matian. Dan disaat M&M Chanwoo datang dengan segala kekurangannya. Sementara team B sudah level atas Chanwoo masih menengah, merangkak nyusul mereka. Dan disitu juga Chanwoo menang polling terakhir sehingga dialah yang masuk iKON. Hanya dalam waktu singkat. Itulah masalahnya menurut saya.

Tapi lebih dari itu saya menerima iKON dengan segala kekurangan mereka. Mencintai mereka seperti saya mencintai SUPER JUNIOR. Keduanya berbeda. Namun perjuangan mereka bikin saya mikir 'ah, hidup tuh ngga segampang balikin tangan.' Saya selalu mengapresiasi idol-idol korea yang berjuang dari bawah. Seperti SUPER JUNIOR, IKON, MONSTA X, SEVENTEEN, VIXX, dll.

Semoga mereka bisa terus sukses ^^

Ludfi present Jung Hoseok, Kim Namjoon BTS's members Unpredictable genre. PG-17 "You have to rememb...


Ludfi present


Jung Hoseok, Kim Namjoon
BTS's members


Unpredictable genre.
PG-17




"You have to remember.
The world not always in your hand."



Entah sudah berapa lama Hoseok menangis di samping motornya. Yang jelas hari telah benar-benar gelap sekarang. Namun tidak ada tanda-tanda bocah ini akan beranjak. Hoseok merasa seperti mendapat kutukan. Di saat kondisinya yang sedang terpuruk. Seseorang menepuk bahunya. Hoseok bergeming namun sebuah lengan memaksanya untuk mengangkat kepalanya.
            
“hei….kau tak apa?” Suaranya terdengar asing dan berat. Hoseok tak mengenalnya, bukannya takut bocah itu malah tetap diam dalam posisinya merunduk. Enggan untuk menatap.
            
“tuan, hari sudah gelap dan disini tak aman, sebaiknya kau segera meneruskan perjalananmu” masih bergeming “kau kehabisan bahan bakar ya, wah disini jauh dari SPBU sih, bagaimana kalau kau….”
            
“berisik!” Hoseok mengangkat kepalanya, irisnya menangkap sosok pria berwajah sangar yang tengah terkejut. Jika dalam kondisi normal Hoseok pastilah akan mentertawakan pria yang berjongkok di hadapannya ini, tapi karena ia sedang badmood jadi… “apa tujuan hidupmu menganggu orang hah! Pergi sana dan jangan mencampuri urusanku!!”

BUG!

Hoseok tersungkur karena pukulan yang tiba-tiba tersebut.

“apa masalahmu sih?! Aku kan hanya khawatir dan bertanya! Tidak usah berteriak!”

BUG!

Kali ini pria asing itu yang tersungkur. Mereka saling baku hantam. Sementara jalanan telah sepi sehingga tidak akan ada orang yang akan melerai perkelahian bodoh mereka.

“kau yang berteriak, bodoh!”

“kau yang bodoh!”

“kau tukang ikut campur urusan orang!”

“dasar tidak tahu terimakasih!”

Pukulan demi pukulan saling mereka layangkan. Hingga mereka berdua kehabisan tenaga dan hanya bisa saling memandang penuh kesal. Hoseok terkejut karena tiba-tiba saja ia melupakan semua masalah yang menderanya seharian ini. Tanpa sadar ia tergelak. Membuat pria asing di hadapannya mengernyit bingung. Hoseok tertawa lepas hingga kemudian suaranya hilang karena ia kehilangan kesadaran.

®UNEXPLAINED®

Kim Namjoon. Begitulah orang memanggilnya. Adalah seorang bocah berumur 17 tahun yang telah melewati masa pubertas. Remaja yang doyan membaca manga rated H. Penggila wanita seksi. Pemain wanita kelas atas. Tipe anak yang sangat menikmati hidup. Satu kata yang paling mencerminkan dirinya. Liar. Lahir tanpa tahu siapa orang tuanya tidak mejadikannya minder dan pemurung. Ia justru tumbuh menjadi remaja yang easy going dan banyak teman. Kim Namjoon, anak angkat Kim Jongwoon, si pebisnis nyentrik. Ia diangkat sebagai anak bukan karena keluarga Kim adalah keluarga mandul yang tak bisa memiliki anak. Kim Jongwoon tidak pernah menikah dan ia tidak suka sendirian. Jadilah ia mengangkat Namjoon sebagai putranya saat bocah itu berumur 4 tahun.

Namjoon adalah rapper underground di ibu kota. Kehidupan malam adalah kesehariannya. Balapan liar merupakan hobinya. Lingkup pertemanannya sangatlah luas dan ia tipe anak yang akan dengan mudah menjadi popular. Namjoon merupakan siswa resmi Kyung High School, sekolah ternama di ibu kota.

Remaja kelebihan hormone, mungkin Namjoon pantas menyandang status demikian. Ia terlalu aktif dalam segala hal. Namjoon aktif di orgnisasi-organisasi besar di sekolah. Dalam pelajaran ia juga terbilang mampu. Setidaknya nama Kim Namjoon tertulis dalam jajaran peringkat lima belas besar sekolah. Dalam bidang olahraga pun meskipun tidak bisa dikataka jago, hampir semua bidang olahraga ia mampu lakukan. Kehidupan malamnya sangatlah berbeda dengan statusnya di sekolah sebagai siswa berprestasi. Namjoon seperti punya dua sisi. Disisi lain ia adalah siswa yang berprestasi di sekolahnya. Namun ia juga merupakan pembalap illegal yang namanya amat ditakuti, juga rapper yang mumpuni. Namjoon benar-benar kelebihan hormone.

Semua teman-teman sekolahnya bukannya tidak tahu mengenai hal ini. Kebanyakan orang akan menyembunyikan statusnya jika mereka memiliki dua sisi kehidupan yang berbeda. Tapi, Namjoon berbeda. Ia santai saja bila temannya mengetahui ia adalah anggota gang underground terbesar di kota dan pembalap terkenal. Namjoon orang yang tidak bisa diprediksi.

“hei tampan” seorang siswa menghampiri Namjoon yang sedang melahap bekal makannya di kelas.

“enyah dariku, baekgayhyun” olok Namjoon tanpa beralih dari makanannya. Yang baru saja datang hanya mengerucutkan bibirnya. Ialah teman dekat Namjoon, sangat cerewet memang, namun untuk ukuran teman Baekhyun sangat baik. Ia benar-benar setia kawan. Tipe teman idaman. Nilai plusnya, ia tahan dengan segala olokan Namjoon.

“aku tidak gay” elak anak bernama Baekhyun tersebut. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka akun social media miliknya. Menyibukkan diri.

“kau seperti uke, ayolah akui saja, mumpung Chanyeol masih menyukaimu tuh. Aduh!” Pria yang lebih tinggi mengaduh karena tendangan tiba-tiba yang diterimanya di tulang kering. Ouh. Pasti rasanya menyakitkan. Mengingat Baekhyun adalah pemain futsal terbaik di sekolah mereka.

“jangan menyebut namanya, telingaku sakit”

“ah Park Chanyeol, dia juga salah satu anggota gang ku loh. Yah meskipun rapp nya tak sebagus diriku, tapi untuk ukuran pemula ia hebat juga” yang lebih pendek hanya memutar matanya kesal. Tak berniat membalas ucapan Namjoon yang memang tak butuh balasan.

“terimakasih bekalnya Baek, kau yang terbaik” Namjoon memberikan jempolnya tepat di depan hidung Baekhyun yang langsung membuka mulutnya dan menggigitnya. “hei bocah lepaskan! Aw!”

“suruh ayahmu untuk menyewa maid, oh tolonglah rumah kalian benar-benar kacau” keluh Baekhyun setelah ia puas menggigit jempol anak yang jauh lebih tinggi darinya tersebut. Namjoon memang memakan bekal miliknya. Keluarga Kim tidak menyewa maid, dan Namjoon jadi jarang sarapan karena ayahnya hanya pandai membuat racun bukan makanan.

“berdua saja kami sudah seramai itu, Baek. Tidak terimakasih”

“tapi kalian berdua tidak ada yang bisa memasak Joon, oh tuhan, ayahmu bahkan lebih parah”

“kan ada kau, hehe”

“kau tidak membayarku”

“kau bukan pekerja komersil, Baek. Lagipula kau memang milikku kan, untuk apa aku membayar milikku sendiri. Aduh! Kau kenapa sih!” Lagi-lagi Namjoon mendapat pukulan namun kali ini di kepala.

“kau dan ayahmu sama saja”

“itulah gunanya ada ayah, hei, kau terdengar seperti ibuku. Bagaimana jika kau menikah dengan ayahku dan menjadi ibuku, Baek?”

“DASAR BRENGSEK!” Dan setelah itu, Si kecil Baekhyun meninggalkan Namjoon yang tertawa lepas dibangkunya. Sepeninggalan Baekhyun, tawa Namjoon menghilang sedikit demi sedikit hingga akhirnya ia terdiam, memandang jendela kelas yang terbuka. Kedua tangannya yang sedari tadi di bawah meja ia tarik keluar. Sebuah gulungan kertas yang sengaja digulung dengan tergesa berada di genggamannya. Genggamannya semakin mengerat. Kemudian ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya dan membuka gulungan. Tertulis di sana ‘temui aku di tempat biasa atau aku yang akan menemui temanmu yang manis itu’.

“maaf Baek, aku harus mengusirmu” Kemudian ia beranjak keluar kelas dengan membawa semua barang-barangnya. Tidak. Ia tidak akan bolos sekolah. Ia tak ingin merusak reputasinya, ia berbelok ke arah ruang piket guru untuk mengambil surat ijin.


®UNEXPLAINED®


To Be Continued...





A/N: Saya berusaha untuk update secepat yang saya bisa. Dan sekali lagi saya mengingatkan. Saya dalam tahap belajar menulis, jadi saya membutuhkan masukan dari pembaca semuanya. Tolong untuk tidak menjadi pembaca gelap saya haha :D tapi saya sangat berterimakasih atas kebaikan pembaca meluangkan waktu sejenak untuk membaca tulisan saya^^

Happy reading...

Ludfi present Jung Hoseok, Kim Namjoon BTS's members Unpredictable genre. PG-17 "You have to remember...



Ludfi present


Jung Hoseok, Kim Namjoon
BTS's members

Unpredictable genre.
PG-17



"You have to remember.
The world not always in your hand."


Sekilas dipandang, Hoseok sama dengan bocah SMA lainnya. Tidak ada yang istimewa. Ketampanannya rata-rata. Otak dan isinya pun begitu. Lingkup pertemanannya pun hanya seputar sekolah dan bimbingan belajar. Bukan tipe anak yang meonjol di pelajaran maupun pertemanan. Juga bukan yang paling tidak dianggap. Jung Hoseok, siswa Anha High School yang biasa-biasa saja. Hidup dengan keseharian yang normal. Tanpa rintangan yang berarti.
            
Hidupnya sangat nyaman. Keluarganya bukanlah keluarga yang berlebihan materi, namun ia tidak pernah hidup menderita. Ia tumbuh dengan baik. Dengan fasilitas lengkap yang menunjang kehidupan remajanya. Computer pribadi, wifi, ponsel canggih, gitar listrik, dan fasilitas lainnya. Semua pastilah iri dengan kehidupannya yang serba tercukupi, dengan cobaan yang tak berarti pula. Hidupnya sangat normal. Terlalu normal hingga  ia sendiri bosan. Hoseok merasa jika ini telalu mudah baginya. Apa yang ia inginkan akan dengan mudah ia dapat. Ia mendapat pekerjaan sampingan yang mudah dengan honor lumayan tinggi. Ia mendapat keringanan biaya sekolah sebagai apresiasi atas absennya yang tidak pernah bolong sejak ia masuk ke sekolah itu. Ia juga mendapatkan pacar yang cantik, kaya dan populer dengan mudah.
            
Sudah dikatakan jika Hoseok merasa bosan dengan hidupnya. Nyaman namun membosankan karena hidupnya yang monoton dan mudah untuk diprediksi. Bukan maksud tidak bersyukur. Hoseok sangat bersyukur. Setiap malam ketika doa bersama keluarganya, ia selalu mengucap syukur atas keberuntungan yang diberikan tuhan padanya. Namun tetap saja Hoseok merasa jengah dengan hidupnya. Terkadang ia berpikir bahwa tuhan terlalu tak adil dengan bocah lain yang seumurannya. Ia bisa hidup tenang sedangkan di luar sana ada begitu banyak orang yang berjuang untuk hidup mereka. Berjuang agar hidup mereka bisa lebih baik dari yang sedang mereka lalui saat ini.

            
Jung Hoseok. Bocah bersurai segelap malam itu memandang langit dari balkon rumahnya. Hari sedang cerah, dan beruntungnya ia hari ini adalah Minggu. Sora pacarnya sedang tidak bisa dihubungi, namun ia tidak khawatir. Karena Sora sedang berlibur, Hoseok pikir gadis itu memang perlu istirahat setelah festival sekolah minggu lalu yang melelahkan. Sora adalah gadis yang polos dan ramah. Hoseok ingat saat ia melakukan pernyataan di kantin 6 bulan lalu. Dengan mudahnya gadis itu tersipu dan memerah. Padahal saat itu kantin sedang sepi dan hanya mereka berdua. Sora adalah anggota OSIS di sekolahnya, tak heran jika lingkup pertemanannya lebih luas di banding dengan Hoseok yang merupakan siswa biasa saja.
            
Hoseok juga telah membawa Sora saat makam malam keluarganya. Kedua orang tuanya setuju. Ibunya langsung menyukai Sora, kata beliau Sora adalah gadis yang ramah. Hoseok kembali berhutang pada keberuntungannya. Entah ini keberuntungan yang keberapa, namun Hoseok mensyukuri hal tersebut.
            
Bocah bersurai hitam itu masih saja memandang langit. Cerah. Namun, tak lama kemudian datang awan gelap disertai angin kencang. Cepat-cepat bocah bermarga Jung itu menutup pintu balkon kamarnya dan menutup gorden. Hoseok takut petir jika kau ingin tahu. Rumahnya sedang kosong. Ayahnya merupakan seorang agen militer sehingga jarang berada di rumah. Sementara ibunya adalah pekerja kantor, yang di akhir minggu selalu ada arisan karyawan. Adik dan kakak perempuannya sedang keluar untuk jalan-jalan. Jadilah ia seorang diri di rumah. Membunuh bosan dengan bermain PS atau yang lainnya.
            
Ia mendengar suara gaduh saat hendak mengambil minum di ruang makan. Suaranya dari kamar atas. Kamar orang tua Hoseok. Diam-diam ia menuju ke sana. Takut jika itu tamu tak diundang. Dengan langkah menjinjit ia menaiki tangga. Jantungnya memacu kencang seiring dengan langkahnya yang semakin mendekati kamar tersebut, suara gaduh tersebut juga semakin kencang. Namun setelah Hoseok mendengar dengan seksama, suara itu mirip suara bisikan atau erangan. Entahlah, ada sesuatu yang tak beres dengan kamar orang tuanya. Ia telah tepat berada di depan pintu kamar. Jemarinya hampir meraih gagang pintu yang berwarna putih, hampir menyerupai kulitnya yang juga seputih porselen. Untuk sedetik Hoseok ragu, namun ia tetap memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Dan, terbukalah daun pintu kamar tersebut.
            
Namun apa yang dilihatnya hampir membuat bola matanya keluar. ia terkejut tentu saja. Bukan hantu bukan juga pencuri yang menggeledah rumahnya. Sesaat Hoseok langsung merasakan dadanya yang sakit dan sesak. Retinanya masih memantulkan apa yang di hadapannya. Sekujur tubuhnya bergetar. Jemarinya masih menggenggam engsel pintu, bahkan lebih erat dari sebelumnya. Menampakkan buku-buku jarinya yang semakin memutih. Perlahan pandangannya mengabur dan liquid asin menuruni pipinya membuat aliran sungai baru. Hoseok menangis. Ia tak pernah menangis sebelumnya, dan kini ia bisa merasakan sesaknya emosi yang ingin ia keluarkan. Kali ini ia tidak beruntung. Mulai detik ini mungkin Hoseok bukan lagi bocah SMA normal yang beruntung. Perlahan Hoseok menutup pintu kamar orang tuanya. Ia tidak kuasa melihat dua insan yang sedang bergumul di atas ranjang orang tuanya. Dua orang yang amat di sayangi Hoseok menghianatinya. Mengebor luka yang amat lebar dan dalam di hati Hoseok. Sora dan Ibu….
            
Hoseok menuruni tangga dengan tubuh yang masih bergetar. Cairan asin itu masih saja menjebol kelopak matanya, menyapu pipi dan berujung di dagu bocah yang sering tertawa itu. Hoseok membanting tubuhnya di kasur kamar. Membenamkan wajahnya di bantal. Menangis sekencang-kencangnya. Tak perduli jika dua insan dengan gender yang sama yang sedang bergumul di kasur milik ayah-ibunya tersebut mendengarnya. Hoseok tak perduli. Biar mereka mendengar pun, Hoseok tak perduli. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa ibu dan pacarnya memiliki hubungan seperti itu di belakangnya. Hoseok tidak tahu pasti kapan mereka memulai hubungan ini. Pantas saja ibunya begitu menyayangi Sora.

            
Tak ingin berada dalam atap yang sama dengan kedua orang itu, Hoseok segera mengambil jaket dan helm nya. Menuntun motornya hingga beberapa meter dari rumah, kemudian menyalakannya dan pergi sejauh mungkin. Ia tak punya tempat tujuan. Ia tak memiliki teman dekat yang bisa ia jadikan tempat curhatan. Hoseok hanya ingin pergi jauh dari dua orang itu. Sejauh mungkin.
Entah sudah kilometer ke berapa, Hoseok masih saja mengarahkan motornya ke utara. Menuju tempat dinas ayahnya. Ia ingin bertemu ayahnya. Ia tiba-tiba saja merindukan sosok beliau yang selalu tersenyum dan yang selalu diandalkannya. Hoseok masih menyimpan catatan alamat yang diberikan ayahnya. Hembusan angin menampar kulit jemarinya yang tak tertutupi, namun ia tak menurunkan kecepatan. Hoseok benar-benar dalam mood yang buruk.
         
Mungkin tuhan mendengar kebosanannya. Mungkin tuhan menarik keberuntungan yang selalu menyertainya. Katakan jika tuhan sedang marah karena sikapnya yang kurang syukur. Hoseok pikir ia sudah mencatat alamat yang diberikan ayahnya dengan benar. Namun saat ini ia berdiri di depan perkampungan kumuh, bukan gedung tempat dinas militer ayahnya. Ia sudah menanyai orang-orang yang berpapasan dengannya. Jawaban yang mereka berikan sama. Disini tidak pernah dibangun gedung dinas kemiliteran, dan tidak ada orang yang bernama Jung So Il. Hoseok hampir berteriak frustasi. Ia lelah, sementara hari telah gelap. Hoseok merosot di samping motornya dan menunduk. Bahunya bergetar. Hoseok menangis.




To Be Continued.



A/N:
Annyeong ^^ saya buat ff ini sudah dari minggu lalu dan baru berkesempetan post sekarang hehe.... waktu itu saya kepikiran sama omongan salah satu temen saya yang bilang kalo hidupnya itu mudah. Saya tidak berkomentar apa-apa saat itu, tapi langsung kepikiran buat ff dengan kata kunci yang sama.
Kenapa saya mikir castnya jihope, sebenernya saya maunya castnya sehun. Tapi sehun terlalu tampan untuk dinistakan wkwkwk. Dan menurut saya, karakter wajah jihope cocok kalo jadi siswi biasa yang normal.

Beberapa hari lagi pendaftaran SNMPTN bakal dibuka, saya berharap saya dapat masuk di univ dan jurusan yang saya dambakan. Doakan saya yaaa ^^

Tolong jangan menjadi Silent rider, saya hanya butuh beberapa kata yang membangun dari para pembaca yang membaca tulisan saya.
Do not copas, Please ^^ and, sorry for cover. I'm not profesional on it, but I learned to be better and better again :))

Happy reading ^^